Monthly Archives: May 2009

ARISAN:UNTUNG ATAU RUGI?

Annisa, seorang lulusan perguruan tinggi ternama baru saja diterima bekerja di sebuah perusahaan. Belum genap sebulan bekerja, ia belum lagi memiliki banyak kenalan disana. Hanya rekan-rekan dari satu bagian saja yang dikenalnya. Dari bagian lain, baru beberapa saja yang sudah diingat namanya dengan baik. Sisanya, “cuma kenal muka tak tahu nama” katanya.

Siang ini ia menerima sepucuk surat di meja kerjanya. Undangan untuk ikut arisan kantor. “Hmm…. lumayan nih, bisa jadi ajang sosialisasi” begitu pikirnya sambil mencatat tanggal dan waktu arisan itu ke dalam agendanya.

Lain Annisa lain pula Komar. Komar sudah sangat lama bekerja di perusahaan tersebut. Bahkan bisa dibilang dia termasuk beberapa orang generasi awal yang sudah bekerja sejak perusahaan itu berdiri. Komar juga ikut dalam arisan itu, walau dengan alasan yang berbeda. Komar ikut arisan dengan alasan belajar menabung katanya. Dan bukan cuma di kantorya saja, ternyata ia juga ikut berbagai macam arisan juga di lingkungannya. Ada arisan keluarga, RT, RW, organisasi, dan sebagainya.

Beda lagi dengan Anne, dia sepertinya paling benci dengan yang namanya arisan. “Ngapain ikut arisan, cuma ajang ngerumpi aja” begitu katanya. Dia juga berpikir bahwa yang namanya arisan tidak memiliki keuntungan sama sekali dari segi keuangan. “Dapetnya kan sama saja dengan jumlah iuran kita. Mending diinvestasikan biar dapet untung”.

Termasuk yang manakah Anda. Seperti Annisa yang ikut arisan dengan tujuan untuk bersosialisasi? Seperti Komar yang ikut arisan untuk balajar menabung? Atau seperti Anne yang menggap tidak untungnya ikut arisan? Sebenarnya, apakah arisan itu menguntungkan atau merugikan sih? Continue reading

KISAH PERJALANAN IBU SOED

Ibu Soed, bernama lengkap Saridjah Niung Bintang Soedibio, kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 26 Maret 1908, seorang pencipta lagu anak-anak legendaris. Dia mencipta 200 lebih lagu anak-anak. Tokoh musik tiga jaman (Belanda, Jepang, Indonesia), ini pertama kali mengumandangkan suaranya di radio NIROM Jakarta 1927. Ibu Sud juga mahir mengalunkan biola. Sebagai pemusik biola, dia ikut mengiringi lagu Indonesia Raya ketika pertama kali didengungkan di Gedung Pemuda 28 Oktober 1928.
Ibu Soed bernama asli Saridjah, bungsu dari dua belas orang bersaudara, putri Mohamad Niung, seorang pelaut berdarah Bugis yang kemudian menetap di Sukabumi, Jawa Barat menjadi pengawal Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang indo-Belanda — beribukan keturunan Jawa ningrat. Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, pensiunan Vice President Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Jakarta, yang waktu itu menetap di Sukabumi mengangkat Saridjah sebagai anak.
Bakat musiknya terasah sejak kecil oleh ayah angkat yang mengasuhnya Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer. Di bawah pengasuhan sang ayah angkat, Saridjah mendapat pendidikan seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola.
Setelah menamatkan pendidikan di Kweekschool, Bandung, Saridjah mengajar di HIS HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna (1925-1941). Di sini dia mulai mengajar anak-anak menyanyi. Dia prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang berbahagia. Lalu dia berpikir untuk menyenangkan anak-anak itu dengan menyanyi. Dia pun berpikir sebaiknya anak-anak Indonesia itu dapat menyanyi dalam bahasa Indonesia. Tentu akan lebih menyenangkan daripada harus mengajarkan lagu berbahasa Belanda kepada murid-murid Indonesia. Maka, dia pun mulai mencipta lagu untuk anak-anak Indonesia.
Continue reading

KISAH SEORANG PENEBANG KAYU

Ada kisah seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon dihutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon pekerja itupun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang kayu.
Hari pertama bekerja, dia berhasil menebang 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang kayu, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sangat luar biasa. Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”.
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya si penebang kayu bekerja lebih keras lagi, tetapi ia hanya bisa merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan cenderung mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil ia robohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikanku”?, pikir si penebang kayu merasa malu dan putus asa. Continue reading